Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2016

[Cerpen] - Titik Hitam dan Merah Muda


Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, matahari masih berada di atas sana, memberi sinar yang hangat atau bahkan ini bisa di sebut sangat panas, matahari masih menunjukkan keperkasaannya di atas sana, seakan-akan enggan turun. Dedaunan sesekali terlihat bergoyang-goyang di karenakan hembusan angin, tunas baru tampak memberi warna baru pada dedaunan, sedikit kemerahan.

Hari ini untuk pertama kalinya kota ini begitu hangat, setelah seminggu lebih di guyur hujan. Ini bulan desember, bulan hujan begitu orang-orang menyebutnya sambil tersenyum, kemudian

Selasa, 05 Juli 2016

[Cerpen]- Kehangatan Hujan

Mobil-mobil merayap dengan pelan, merayapi jalanan yang licin. Tetesan air dari langit masih berjatuhan, bahkan kini semakin deras. Ya, semakin kuat, semakin kuat menghujam apapun yang menghalanginya mencapai dasar bumi. Lampu-lampu mobil menerobos gelapnya malam. Hanya beberapa motor saja yang terlihat, bukan tanpa alasan, hujan yang melanda bukan lawan yang tepat bagi pengguna sepeda motor.

Diantara mobil-mobil yang bergerak dengan hati-hati itu aku duduk. Duduk di kursi penumpang bagian depan. Tentunya ini bukan mobil milikku. Ini hanya tumpangan, bukan tanpa alasan, aku punya alasan yang kuat untuk berada di kursi penumpang saat ini.

Mataku mengawasi jalanan. Sesekali wiper mobil mengganggu pandanganku.

Sabtu, 18 Juni 2016

[Cerpen]- Kunci Berdarah


Angin tampak berhembus tenang, menggoyangkan pepohonan yang di selimuti gelapnya malam. Tidak ada cahaya satupun dari ruangan 24 ruangan kelas yang berdiri, suasana gelap disetiap lorong membuat keadaan semakin mencekam. Terdengar bunyi jangkrik yang memecahkan kesunyian malam.

Sebuah anak kunci tampak memasuki sebuah pintu kelas, memutar sebanyak duakali, dan gagang pintu bergerak secara perlahan. Suasana dingin memasuki ruangan saat pintu dibuka, hembusan angin menggerakkan gordent yang tertata dengan rapi. Tampak sebuah tangan meraba-raba sakelar lampu dan menekan salah satu tombol.

Suasana kelas kini berbeda

Kamis, 19 Mei 2016

Forget It

Tetesan hujan jatuh dengan lembutnya, jatuh dengan lembut tanpa ada yang menahan. Tetesan itu kini membasahi tanah yang ada dibawah pohon besar itu, pohon besar yang katanya sudah sangat lama usianya, mungkin memang wajar jika pohon itu disebut pohon tua. Dedaunan dipohon tua itu kini beberapa mulai berjatuhan, angin yang kencang menyapu semuanya, menyapu air untuk jatuh, menyapu dedaunan untuk ikut dengannya. Begitulah yang terjadi sore ini, sebuah sore mendung dengan awan kelabu yang tampak bergulung.

Disini aku berdiri, sekitar 30 meter dari pohon tua yang kini tampak begitu lemah, tampak meliuk-liuk bagaikan tarian seorang putri yang gemulai. Aku meraih kamera pocket milikku, mengatur pencahayaan dan menjepret beberapa gambar. Aku menyukai hari ini, aku suka hujan, aku suka awan,

Minggu, 24 April 2016

Can We? (Chapter 4)



Malam yang begitu menenangkan. Ully menatap setiap lembaran buku matematikanya. Sesekali tangannya memainkan angka di kalkulatornya. Ully menutup buku matematika paket yang sedang dibacanya, matanya menatap sisi sampul buku. Terlihat sebuah nama disana ‘Viko Kusuma’, wajah Ully tampak tersenyum. Ah, dirinya begitu mengingat saat Viko mengantarkan buku ini satu minggu yang lalu.

Namun bayangan Viko menghilang, terganti dengan Jordi. Entahlah Ully begitu percaya jika Jordi adalah orang yang dimaksud oleh Viko. Dirinya berjanji akan berusaha terbiasa dengan Jordi, berusaha selalu ada untuk Jordi.

Viko mengangkat tangannya, melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 8. 

Senin, 18 April 2016

Can We? (Chapter 3)

Ully menatap dalam-dalam langit-langit kamarnya. Apa kabar Viko? Apakah dia sudah mengerjakan tugas fisika yang akan di kumpulkan besok? Sekelebat pertanyaan timbul di pikiran Ully. Sesekali matanya dipejamkannya, seakan-akan dirinya begitu lelah hari ini. ully dengan susah payah mengajak tubuhnya berdiri, berdiri dan merapikan semua cat yang berserakan dilantai kamarnya. Besok ibunya akan kembali dari desa, pasti ibunya akan tidak suka akan noda-noda yang berserakan. Tapi dirinya begitu lelah, begitu lelah untuk merapikan semuanya.

Sabtu, 16 April 2016

Can We? (Chapter 2)

Setelah meninggalkan Ully tampak wajah Viko sedikit berubah, Viko yang tadinya cerewet, berubah menjadi sangat dingin.

“Viko, Ice creamnya di makan kali masa dianggurin?”

“Iya, Freya.”

“Kamu sakit?”

“Siapa perempuan yang tadi kamu temui di jembatan?” Freya bertanya setelah melihat gelengan dari Viko.

“Teman.”

Jumat, 15 April 2016

Can We?

Apa itu perasaan menyayangi? Mungkinkah itu hanya cerita bodoh? Mungkinkah  itu ada? Samakah dengan perasaan suka? Bodohkah jika itu seperti terlihat sama?

Sinar matahari menyinari dengan begitu terik, barisan anak kelas XI IPA 1 tampak berderet rapi. Mereka disana bukan tanpa alasan, tapi mereka disana juga tidak punya tujuan. Mereka berdiri disana karena sebuah kesalahan, kesalahan yang di lakukan secara kompak.

Senin, 04 April 2016

Time Error (3) : Back


Rain yang melihat Veno tampak penasaran. Veno membuka lebar-lebar pintu, dan Rain melihat anak panti disana.

Senin, 28 Maret 2016

Time Error (2) : Siapa?



Rainy bangun dari tidur dengan perasaan yang aneh, tangannya seperti ada bekas cengkeraman. Rainy berusaha untuk berpikir positif, bagaimana pun sebenarnya dia begitu takut. Why? Karena rumah yang ditinggali Rainy dan keluarganya kata tetangganya angker. Tapi ini untuk pertama kalinya Rain merasakan hal aneh.

Jumat, 25 Maret 2016

Time Error: Start

Terdengar suara jam memecah kesunyian, suara hewan malam bahkan sudah tidak terdengar lagi. Seorang perempuan tampak duduk di tempat tidurnya dengan laptop ditangannya. Matanya sesekali melihat kearah jam dinding. Ada senyum diwajahnya ketika melihat jarum panjang jam semakin mendekati angka 12. Sementara, tangannya sibuk dengan keyboard laptopnya.

Selasa, 15 Maret 2016

Lingkaran Pertemanan 7 (End)

Hari-hari terakhirku hanya ditemani oleh Genta. Kami pergi kemana saja yang menarik. Genta mengatakan jangan pernah terfokus dengan hal yang akan menghancurkan dirimu, tapi berfokuslah untuk menjadi kuat sehingga tidak ada satupun yang dapat menghancurkanmu. Entah mengapa Genta terasa begitu berbeda. Satu hal yang kurasakan  entah mengapa aku begitu nyaman disampingnya. Seharusnya tidak ada rasa yang timbul jika memang kami saudara, harusnya pertemanan kami murni sebuah pertemanan.

Minggu, 13 Maret 2016

Lingkaran Pertemanan 6

Aku menatap dalam-dalam mata Yudha. Jujur aku tidak memiliki rasa untuknya sedikitpun. Aku harus bagaimana? Haruskah aku menerima orang yang tidak ada tersimpan sedikitpun dihatiku? Atau aku menolak saja? Aku takut. Aku takut jika aku menolak, akan melukai Yudha.

Aku menatap Yudha cukup lama, sampai akhirnya aku melihat Genta berjalan kearah kami. Ada sebuah senyuman di bibir Genta, aku melihat anggukan di kepala Genta. Aku bingung sungguh.

Minggu, 06 Maret 2016

Lingkaran Pertemanan 5

Aku berada dalam bis saat ini, disebelahku duduk orang yang selama ini menginspirasikan dan ‘katanya’ sangat menyayangiku. Pikiranku masih berkecamuk. Aku bingung. Aku sudah menjalani pertemanan yang kelihatannya seperti hubungan istimewa ini selama berbulan bulan. Aku menunggu, namun hingga kiniRadit tidak pernah bertanya, bertanya tentang perasaanku atau yang lainnya.

Kamis, 03 Maret 2016

Lingkaran Pertemanan 4

Aku menghentakkan kakiku, aku berjalan beberapa langkah menjauhi Radit. Aku berharap saat itu Radit memanggilku atau sekedar menahanku . Namun sampai aku keluar dari taman , tidak ada suara Radit, tidak ada tangan Radit yang berusaha menahanku. Ah Radit, mengapa semua terasa begitu asing?

Hujan

Hujan                     


Gerimis tampak jatuh dengan lembutnya jatuh ketanah. Aku benci berada di situasi ini. Kutatap tetesan yang terjatuh dari daun-daun hijau didepan rumahku. Semuanya mengembalikan memori bertahun-tahun lalu. Memori yang buruk! Aku berharap sampai saat ini semua yang terjadi adalah sebuah mimpi. Mimpi bodoh yang menjadi sebuah petualangan.

Selasa, 01 Maret 2016

Lingkaran Pertemanan 3

Aku menatap nanar pandangan Genta, aku masih mengingat kehancuran keluargaku, dan bodohnya aku terjebak dalam lingkaran pertemanan dengan orang itu.

Matahari benar-benar hilang. Kini lampu-lampu terasa begitu hangat, seakan-akan cahaya kekuningan itu berusaha menenangkan diriku.

Minggu, 21 Februari 2016

Lingkaran Pertemanan 2

Dua hari kemudian aku di izinkan pulang. Jujur aku menanti ibuku hadir saat aku dalam keadaan sakit, tapi ah sudahlah beliau begitu sibuk dengan tugasnya. Hanya tanteku yang ada menjagaku disini. Ya tanteku dia sudah kuanggap sebagai ibuku. aku bahkan tidak tahu dimana ibuku saat ini.

Sabtu, 13 Februari 2016

Lingkaran Pertemanan


Teman? Yups satu hubungan dimana sebuah kerespectan menjadi modal utama. Mungkin teman menjadi modal untuk kehubungan yanglebih dekat. Sebuah pertemanan dimulai dengan “hai” atau terkadang dimulai dengan sebuah permusuhan.